WONOGIRI – Kabupaten Wonogiri memasuki babak baru dalam pengembangan energi terbarukan. Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di perairan Waduk Gajah Mungkur (WGM) resmi dimulai, Selasa (25/8/2026), ditandai dengan peluncuran Program Nasional PLTS 100 Gigawatt-peak (GWp) dan groundbreaking yang dilaksanakan secara hibrida.
Bagi Wonogiri, dimulainya proyek tersebut menjadi momentum penting. Selain menempatkan Waduk Gajah Mungkur sebagai salah satu lokasi pengembangan energi bersih berskala nasional, kehadiran PLTS Terapung juga membuka peluang bagi daerah untuk mengambil peran dalam mendukung transisi energi sekaligus pembangunan berkelanjutan.
Seremonial di kawasan WGM diikuti secara daring dari lokasi proyek dan dihadiri Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah serta Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Wonogiri.
Sementara itu, acara utama dipusatkan di Jembrana, Bali, dan dipimpin langsung Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Manfaatkan Sebagian Kecil Perairan WGM
PLTS Terapung WGM dirancang memiliki kapasitas terpasang mencapai 134,2 Megawatt-peak (MWp) atau setara 100 Megawatt-alternating current (MWac).
Fasilitas tersebut akan memanfaatkan area permukaan Waduk Gajah Mungkur sekitar 76 hektare. Luasan itu hanya sekitar 1,31 persen dari total area WGM yang mencapai kurang lebih 5.779 hektare.
Pemanfaatan sebagian kecil area perairan tersebut menunjukkan bahwa fungsi Waduk Gajah Mungkur tidak hanya memiliki nilai strategis bagi pengelolaan sumber daya air, pertanian, perikanan, pariwisata, dan perekonomian masyarakat, tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan energi bersih.
Proyek ini merupakan kolaborasi PT PLN Indonesia Power Renewables, PT GCL Tirta Surya, dan PT Jasa Tirta Energi melalui konsorsium PT Hijauesia GCL Gajahmungkur. Komposisi kepemilikannya terdiri atas PT PLN Indonesia Power Renewables sebesar 51 persen, PT GCL Tirta Surya 44 persen, dan PT Jasa Tirta Energi 5 persen.
Bagi Kabupaten Wonogiri, proyek tersebut sekaligus menjadi bagian dari perjalanan daerah dalam mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan. Kehadiran PLTS Terapung diharapkan dapat memperkuat citra Wonogiri sebagai daerah yang mampu mengoptimalkan potensi sumber daya alam untuk mendukung agenda energi bersih.
Proyek Strategis, Target Beroperasi 2027
PLTS Terapung WGM merupakan salah satu proyek yang masuk dalam agenda pengembangan PLTS nasional. Proyek tersebut juga terkait dengan penetapan Proyek Strategis Nasional (PSN), Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), serta Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN.
Dari sisi infrastruktur kelistrikan, energi yang dihasilkan dari Floating Photovoltaic (FPV) WGM akan disalurkan melalui switchyard di Desa Boto, Kecamatan Baturetno. Selanjutnya listrik akan terhubung dengan Gardu Induk Nguntoronadi 150 kilovolt (kV) melalui jaringan transmisi khusus sepanjang sekitar 11,7 kilometer.
Proyek ini ditargetkan memasuki tahap operasional komersial pada Desember 2027.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut PLTS Terapung WGM sebagai salah satu proyek PLTS terapung terbesar di Jawa Tengah dengan kapasitas 134,2 MWp.
Menurutnya, energi yang dihasilkan nantinya tidak hanya diperuntukkan bagi Wonogiri, tetapi menjadi bagian dari sistem kelistrikan untuk memenuhi kebutuhan energi di Jawa Tengah.
“Artinya kalau dihitung ini bisa membuat 37 persen Wonogiri teraliri listrik dengan daya ini. Akan tetapi nanti dalam pelaksanaannya ini untuk seluruh Jawa Tengah,” ujar Luthfi.
Ia juga berharap pengembangan PLTS Terapung WGM dapat berjalan selaras dengan program Pemprov Jawa Tengah dalam mendorong desa mandiri energi. Pengembangan panel surya di 250 desa mandiri energi menjadi salah satu agenda yang diharapkan dapat memperkuat ekosistem energi terbarukan di Jawa Tengah.
Nilai investasi PLTS Terapung WGM diperkirakan mencapai sekitar Rp1,6 triliun.
Dorong Ekonomi dan Energi Berkelanjutan di Wonogiri
Dari sisi daerah, masuknya investasi energi terbarukan ke Wonogiri tidak hanya berkaitan dengan produksi listrik. Proyek berskala besar tersebut juga berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui aktivitas pembangunan, kebutuhan tenaga kerja, serta tumbuhnya aktivitas pendukung di sekitar proyek.
Di sisi lain, pengembangan energi surya menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Direktur Operasional Gas PLN Indonesia Power Daniel Eliawardhana mengatakan persiapan teknis proyek terus dilakukan agar target operasi pada akhir 2027 dapat tercapai.
“Mohon doanya, semoga ini bisa lancar dan kita bisa menikmati energi hijau terbarukan yang lebih sehat untuk kita semua,” ujarnya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pembangunan PLTS dalam program nasional 100 GWp bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari langkah besar menuju swasembada energi nasional.
Sementara Presiden Prabowo Subianto menargetkan program nasional PLTS 100 GWp dapat diselesaikan dalam tiga tahun. Pengembangan energi terbarukan tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah Indonesia untuk memperkuat kemandirian energi.
Bagi Wonogiri, dimulainya pembangunan PLTS Terapung Waduk Gajah Mungkur menjadi peluang untuk memperkuat peran daerah dalam agenda tersebut. Waduk yang selama ini menjadi salah satu ikon Wonogiri kini mendapat fungsi strategis baru sebagai bagian dari pengembangan energi hijau nasional.
Dengan target beroperasi pada 2027, masyarakat Wonogiri kini menanti bagaimana proyek PLTS Terapung WGM dapat berjalan dengan baik, tetap menjaga fungsi utama waduk, serta memberikan manfaat nyata bagi daerah dan masyarakat.
Proyek tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan listrik bersih, tetapi juga menjadi simbol transformasi Wonogiri menuju pembangunan yang lebih hijau, berkelanjutan, dan berorientasi pada masa depan. (admin)
