WONOGIRI – Pagelaran wayang kulit semalam suntuk menjadi puncak kemeriahan malam tirakatan dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Wonogiri ke-285 Tahun 2026. Acara yang digelar di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri pada Senin malam (18/5) hingga Selasa dini hari (19/5) tersebut berlangsung khidmat sekaligus meriah dengan dihadiri masyarakat, jajaran pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan pecinta seni budaya.
Pagelaran wayang kulit menghadirkan dalang muda berbakat Ki Aan Bagus Saputro dengan membawakan lakon “Topeng Waja”, sebuah cerita pewayangan yang sarat nilai kepemimpinan, perjuangan, dan pengabdian.
Rangkaian acara diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Wonogiri yang telah memasuki usia ke-285 tahun. Momentum syukur tersebut ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang kemudian diserahkan kepada Ketua DPRD Wonogiri Sriyono.
Bupati Setyo Sukarno menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga merupakan bagian dari upaya melestarikan budaya adiluhung bangsa yang telah diakui dunia sebagai warisan budaya.
“Pagelaran wayang kulit ini menjadi bagian dari upaya nguri-uri budaya bangsa. Nilai-nilai yang terkandung dalam pewayangan sangat relevan untuk dijadikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam pembangunan daerah,” ujarnya.
Suasana semakin meriah saat memasuki adegan Limbukan. Dalam sesi tersebut, Bupati Setyo Sukarno didaulat naik ke atas panggung oleh tiga bintang tamu, yakni pesinden milenial Ni Elisha Orcarus Allaso bersama Apri dan Mimin. Ketiganya meminta Bupati untuk menyumbangkan sebuah tembang di hadapan penonton.
Namun, alih-alih bernyanyi, Setyo justru meminta para pesinden membawakan lagu Grajagan Banyuwangi, sebuah tembang yang mengisahkan keindahan Pantai Grajagan sebagai destinasi wisata unggulan. Interaksi tersebut disambut hangat dan mengundang antusiasme penonton yang memenuhi area pendopo.
Lakon Topeng Waja yang dibawakan malam itu merupakan lakon carangan yang tercatat dalam Ensiklopedi Wayang Indonesia. Cerita berpusat pada perjuangan Prabu Gatotkaca atau Arimbiatmaja dalam mempertahankan dan memperoleh Wahyu Topeng Waja.
Dalam kisah tersebut, Gatotkaca yang dikenal memiliki pusaka sakti berupa Kutang Antrakusuma, Caping Basunanda, dan Tlumpah Pada Kucarma harus menghadapi Prabu Boma Narakasura dari Kerajaan Trajutrisna yang juga menginginkan wahyu tersebut untuk mewujudkan ambisinya menjadi senapati Pandawa dalam Perang Baratayuda.
Pertarungan sengit antara Gatotkaca dan Boma menjadi klimaks cerita. Dengan kesaktian dan keteguhan hatinya, Gatotkaca berhasil mengalahkan Boma serta mempertahankan Wahyu Topeng Waja yang menjadi simbol kepemimpinan dan kebijaksanaan.
Melalui pagelaran wayang kulit tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonogiri tidak hanya menghadirkan hiburan rakyat dalam rangka Hari Jadi ke-285, tetapi juga mengajak masyarakat untuk meneladani nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan pengabdian yang terkandung dalam warisan budaya leluhur. Semangat tersebut diharapkan selaras dengan tekad bersama membangun Wonogiri yang semakin maju, sejahtera, dan berkelanjutan. (admin)
