Wonogiri — Pemerintah Kabupaten Wonogiri menggelar puncak peringatan World Cleanup Day (WCD) tahun 2025 yang dipusatkan di GOR Giri Mandala, Selasa (30/9). Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, didampingi Wakil Bupati Imron Rizkyarno dan Sekretaris Daerah FX Pranata, serta diikuti ratusan relawan pencinta lingkungan.
Momentum tersebut diisi dengan aksi bersih-bersih bersama yang dilakukan secara gotong royong. Aksi ini bertujuan mengembalikan fungsi ruang publik agar tetap asri, nyaman, serta dapat digunakan masyarakat dengan lebih sehat dan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Bupati Setyo Sukarno menekankan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup, khususnya dalam pengelolaan sampah. Menurutnya, setiap tindakan kecil dalam menjaga kebersihan akan memberi dampak besar jika dilakukan bersama-sama.
“World Cleanup Day bukan hanya tentang memungut sampah sehari, tapi momentum membangun kesadaran kolektif. Dari hal kecil seperti memilah sampah di rumah, dampaknya bisa besar bagi keberlanjutan lingkungan,” tegas Bupati.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Wonogiri
Data dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wonogiri mencatat, pada tahun 2024 jumlah timbulan sampah di wilayah Wonogiri mencapai 127.166,54 ton. Dari jumlah tersebut, baru 56,74 persen yang berhasil dikelola. Persentase tersebut terdiri dari 17,43 persen sampah yang ditangani Pemerintah Daerah melalui pengangkutan ke TPA, dan 39,31 persen melalui upaya pengurangan sampah oleh masyarakat, seperti komposting, bank sampah, serta budidaya maggot.
Meski angka ini menunjukkan adanya langkah maju, persoalan masih dihadapi pada minimnya sarana prasarana pengelolaan sampah serta rendahnya partisipasi masyarakat. Praktik pengelolaan sampah dengan pola “kumpul–angkut–buang” masih mendominasi. Akibatnya, volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin besar dan membebani fasilitas yang ada. Bahkan, TPA Ngadirojo diperkirakan hanya mampu menampung hingga akhir tahun ini.
Menuju Paradigma Baru
Untuk itu, Bupati Setyo menyerukan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah. Sistem lama yang hanya mengandalkan TPA harus ditinggalkan, dan digantikan dengan prinsip reduce, reuse, recycle (3R).
“Pengelolaan sampah harus lebih efektif sejak di hulu, yakni dari rumah tangga, desa, sekolah, hingga kawasan. Dengan menerapkan pemilahan, pengurangan, dan pengolahan sampah sejak sumbernya, maka volume sampah yang sampai ke TPA dapat dikendalikan. Harapannya, kita bisa menuju konsep zero waste atau kawasan tanpa sampah,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Wonogiri juga mendorong penguatan kapasitas masyarakat melalui edukasi lingkungan, pengembangan bank sampah, serta program desa mandiri sampah. Dengan kolaborasi bersama, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya berfokus pada penanganan, tetapi juga pada pencegahan dan pemanfaatan kembali.
Semangat Gotong Royong untuk Bumi
Peringatan WCD 2025 di Wonogiri bukan hanya sekadar seremonial, melainkan ajakan nyata untuk memperkuat komitmen menjaga kelestarian bumi. Bupati Setyo Sukarno menutup sambutannya dengan mengingatkan bahwa kepedulian lingkungan adalah warisan berharga untuk generasi mendatang.
“Marilah kita mulai dari diri sendiri, dari rumah masing-masing, dengan langkah kecil yang konsisten. Jika dilakukan bersama, kita bisa mewariskan bumi yang lebih baik untuk anak cucu kita,” pungkasnya.
Dengan semangat gotong royong, Kabupaten Wonogiri berkomitmen menjadikan momentum World Cleanup Day 2025 sebagai tonggak dalam membangun budaya bersih dan berkelanjutan, demi tercapainya lingkungan hidup yang sehat, nyaman, dan lestari.
