WONOGIRI_ Acara Rembug Stunting yang digelar Selasa (09/08) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri menjadi bentuk Komitmen Pemerintah Kabupaten Wonogiri mewujudkan zero stunting. Acara ini dihadiri oleh Bupati Wonogiri, Wakil Bupati Wonogiri, Ketua I Tim Penggerak PKK Wonogiri Sekretaris Daerah Wonogiri, Perwakilan Kepala BKKBN Provinsi Jawa Tengah, serta Plt Kepala Bappeda Provinsi Jawa Tengah.
Wakil Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang juga berperan sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Wonogiri menyampaikan beberpa poin terkait penyebab stunting di Kabupaten, yaitu diantaranya masih rendahnya partisipasi orang tua untuk membawa anaknya ke posyandu, belum optimalnya pola hidup bersih dan sehat pada balita, pernikahan dini serta rendahnya pelayanan intervensi stunting.
Meskipun demikian trend prevelensi stunting di Kabupaten Wonogiri cenderung mengalami penurunan. Pada tahun 2020 balita yang dinyatakan stunting di Kabupaten Wonogiri sebanyak 5.135 balita dengan prevelensi 19,08%. Angka tersebut turun menjadi 4.732 balita dengan prevelensi 12,13 % berdasarkan data pada bulan Februari tahun 2022.
“Prevelensi stunting Kabupaten Wonogiri telah mencapai target referensi pemerintah Republik Indonesia yaitu sebesar 14 %,” ujar Wakil Bupati Wonogiri.
Sementara pada kesempatan yang sama bupati wonogiri Joko Sutopo mengungkapkan fakta di lapangan bahwa stunting tidak melulu relevan dengan kemiskinan.
“Stunting bukan representasi miskin. Ada yang orang tuanya guru, anaknya mengalami stunting. Fakta di lapangan, ada keluarga yang secara ekonomi mampu, tapi anaknya stunting,” ujarnya.
Lebih lanjut dipaparkan Bupati, pencegahan stunting dapat dilakukan sejak dini. Dimulai saat masih menjadi calon pengantin, sudah mendapatkan edukasi. Berlanjut ketika masa ibu hamil hingga 1.000 hari kehidupan pertama anak. Dengan upaya dan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat, Bupati Joko Sutopo optimistis pada 2024, Wonogiri bisa zero stunting. (admin/rizki_magprok2022)
