Wonogiri – Pemerintah Kabupaten Wonogiri kembali menggelar ritual tahunan Jamasan Pusaka peninggalan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Minggu (6/7). Tahun ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya prosesi jamasan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Wonogiri. Pada tahun-tahun sebelumnya, ritual tersebut diselenggarakan di kawasan Selogiri dan Waduk Gajah Mungkur.
Prosesi berlangsung khidmat dengan tata adat Jawa. Para tamu undangan bersama utusan dari Praja Mangkunegaran mengenakan busana adat Kejawen, menegaskan nilai sakral sekaligus memperkuat pelestarian tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi yang digelar setiap bulan Suro ini menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya sekaligus mengenalkan sejarah perjuangan Pangeran Sambernyawa kepada masyarakat.
Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mengatakan, ritual jamasan bukan sekadar seremoni budaya, melainkan bentuk penghormatan kepada para leluhur serta ikhtiar menjaga nilai-nilai sejarah yang menjadi identitas Kabupaten Wonogiri.
“Ritual jamasan pusaka menjadi salah satu sarana untuk ngrukti atau merawat pusaka, yang sekaligus merupakan upaya melestarikan budaya leluhur. Ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada Pangeran Sambernyawa yang memiliki jejak sejarah kuat di Wonogiri,” ujar Bupati.
Menurut Bupati, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah. Nilai-nilai perjuangan, kepemimpinan, dan semangat pengabdian yang diwariskan Pangeran Sambernyawa diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun Wonogiri yang berdaya saing, maju, sejahtera, dan berkelanjutan.
Kabupaten Wonogiri menyimpan lima pusaka peninggalan Pangeran Sambernyawa yang dahulu menjadi andalan dalam perjuangan. Tiga pusaka disimpan di Monumen Tugu Ireng, Kecamatan Selogiri, yaitu Tombak Kiai Totog, Tombak Kiai Jaladara, dan Keris Panjang Kiai Karawelang. Sementara dua pusaka lainnya, Keris Semar Tinandu dan Tombak Kiai Limpung, disimpan di Rumah Tiban, Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto.
Dalam pelaksanaan ritual, Gusti Bhre Mangkunegaran atau KGPAA Mangkunegara X mengutus Wedana Satriya Praja Mangkunegaran Kanjeng Pangeran Lilik Priarso Tirtodiningrat untuk memimpin prosesi jamasan. Rangkaian acara diawali dengan kenduri selamatan, doa bersama, serta penyajian sesaji bunga dan pembakaran dupa sebagai simbol penghormatan kepada leluhur, sebelum dilanjutkan dengan penyucian pusaka menggunakan air bunga setaman.
Melalui penyelenggaraan ritual jamasan ini, Pemerintah Kabupaten Wonogiri menegaskan komitmennya dalam menjaga dan merawat warisan budaya sebagai bagian dari identitas daerah. Tradisi ini diharapkan tidak hanya menjadi agenda pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai sejarah yang menjadi fondasi perjalanan Kabupaten Wonogiri. (Admin)
