WONOGIRI – Bupati Wonogiri Setyo Sukarno meresmikan Laboratorium Hidup Ekoteologi Dharma Ekologi Pusat Pembelajaran Daur Ulang di Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri (STABN) Raden Wijaya Wonogiri, Selasa (30/6). Peresmian tersebut menjadi wujud dukungan Pemerintah Kabupaten Wonogiri terhadap pengembangan inovasi di bidang pendidikan, pelestarian lingkungan hidup, dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Bupati mengapresiasi tim dosen STABN Raden Wijaya Wonogiri yang berhasil mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Inovasi tersebut dinilai sebagai solusi konkret dalam menjawab persoalan sampah plastik sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi sumber energi alternatif yang bernilai ekonomi.
“Inovasi tersebut menjadi solusi nyata dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi dari limbah plastik,” ujar Bupati.
Melalui teknologi pirolisis, setiap lima kilogram limbah plastik kering dapat diolah menjadi hampir lima liter bahan bakar minyak. Selain menghasilkan BBM, proses tersebut juga menyisakan residu karbon yang masih dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk sehingga seluruh hasil pengolahan memiliki nilai manfaat.
Bupati mengatakan, kehadiran Laboratorium Hidup Ekoteologi Dharma Ekologi menjadikan Wonogiri memiliki salah satu pusat inovasi pengolahan sampah plastik menjadi energi alternatif yang berpotensi dikembangkan lebih luas. Menurutnya, apabila inovasi tersebut terus dikembangkan dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat, limbah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan dapat berubah menjadi sumber energi baru yang bernilai ekonomi tinggi.
Selain memberikan manfaat ekonomi, pengembangan teknologi tersebut juga diharapkan mampu membantu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan.
“Keberadaan Laboratorium Hidup Ekoteologi Dharma Ekologi diharapkan memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi pengelolaan sampah plastik, energi alternatif, serta mendukung pembangunan berkelanjutan di Wonogiri,” tambahnya.
Teknologi pirolisis bekerja dengan memanaskan sampah plastik pada suhu tinggi tanpa melalui proses pembakaran langsung. Dari proses tersebut dihasilkan minyak yang selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai jenis bahan bakar, seperti solar, pertalite, minyak tanah, hingga gas yang masih dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
Meski demikian, proses pengolahan memerlukan tahapan pemilahan bahan baku secara ketat. Tidak semua jenis plastik dapat diproses menggunakan teknologi ini karena kualitas bahan bakar yang dihasilkan sangat dipengaruhi oleh jenis plastik yang digunakan. Pemilahan juga menjadi langkah penting untuk menjaga performa mesin pirolisis agar tetap optimal.
Peresmian laboratorium ini diharapkan menjadi awal penguatan ekosistem inovasi di Kabupaten Wonogiri yang mengintegrasikan pendidikan, riset, teknologi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui sinergi tersebut, Wonogiri terus mendorong lahirnya berbagai inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. (Admin)
