Wonogiri – Kabupaten Wonogiri mencatat prestasi penting sebagai daerah pertama di Jawa Tengah yang berhasil membentuk Desa dan Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) secara penuh di seluruh wilayahnya. Capaian ini terungkap dalam kegiatan Silaturahmi dan Latihan Bersama Relawan Penanggulangan Bencana Kabupaten Wonogiri yang digelar di GOR Giri Mandala, Selasa (12/8).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan seluruh lapisan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyampaikan bahwa momentum silaturahmi dan latihan bersama harus menjadi wadah penyatuan seluruh elemen masyarakat yang memiliki niat tulus untuk berkontribusi dalam penanggulangan bencana.
“Koordinasi yang telah terjalin baik selama ini harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan para relawannya,” tegasnya.
Acara juga diwarnai simulasi vertical rescue untuk korban paralayang yang tersangkut di pohon, latihan pemadaman kebakaran, hingga edukasi penanganan ular. Bupati pun menginstruksikan kepada para Camat untuk segera membentuk Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) di seluruh wilayah.
“Setelah ada 294 Destana, kita akan bentuk 25 Kencana. Harapan kami, Destana dan Kencana menjadi garda terdepan dalam mengidentifikasi risiko lokal, menyusun rencana kesiapsiagaan mandiri, dan menggerakkan partisipasi masyarakat,” jelasnya.
Bupati menambahkan bahwa paradigma penanggulangan bencana kini bergeser dari sekadar tanggap darurat menjadi pendekatan proaktif yang meliputi pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan. Kolaborasi pentahelix — melibatkan pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media — menjadi kunci agar Wonogiri siap menghadapi berbagai ancaman bencana.
“Hadirnya semua pihak akan memastikan Wonogiri mampu pulih dari dampak bencana secara lebih efektif,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Wonogiri Fuad Wahyu Pratama mengungkapkan bahwa Wonogiri berada dalam kelas risiko bencana sedang dengan indeks ketahanan daerah 0,75 dan indeks risiko bencana 86,79. Sepanjang tahun 2024, tercatat 143 kejadian tanah longsor, 16 banjir, 61 angin kencang/puting beliung, dan 27 kebakaran lahan maupun rumah.
Fuad menegaskan, kondisi ini menggambarkan bahwa setiap bencana membawa dampak kerugian bagi masyarakat. Karena itu, peningkatan kapasitas masyarakat dan relawan menjadi krusial untuk meminimalkan risiko dan kerugian di masa mendatang.
